Adab Rasul SAW Terhadap Anak Yatim

Bagikan artikel ini:

Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa memberi kepada orang-orang yang membutuhkan, termasuk anak yatim. Rasulullah telah menunjukkan perilaku santun dengan membantu anak yatim di dekatnya.

Memberi uang bukanlah satu-satunya cara untuk menyantuni anak yatim; donasi lain seperti makanan, perlengkapan sekolah, atau perlengkapan membaca Alquran juga bisa diberikan. Berikut ini adalah beberapa adab terhadap anak yatim yang patut ditiru dari Nabi SAW. 

Adab Terhadap Anak Yatim

1. Memberikan Sedekah Berupa Sebagian Harta dan Pakaian

Memberikan sebagian harta kepada anak yatim adalah langkah awal untuk menafkahi mereka. Misalnya dengan menyisihkan uang dan menggunakannya untuk membeli pakaian atau untuk perlengkapan sekolah anak yatim.

Hal ini semakin diperjelas dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad yang menyatakan bahwa sedekah yang dilakukan oleh seorang yang taat akan memberikan keteduhan bagi mereka di hari kiamat. Hadits ini sangat jelas menandakan bahwa bersedekah bisa menjadi wasilah bagi seseorang untuk diselamatkan di hari kiamat.

Adab Nabi SAW yang wajib dipatuhi dalam memberikan santunan kepada anak yatim adalah melakukannya dengan ikhlas dan baik. Alangkah lebih baik jika bersedekah kepada anak yatim dilakukan secara sembunyi-sembunyi sehingga terhindar dari sikap riya’.

2. Mengelus Kepalanya

Saat membagikan sedekah, Rasulullah SAW juga senantiasa mengelus kepala anak yatim. Mengelus di kepala adalah simbol perhatian dan kasih sayang. Merawat kepala anak yatim dapat melembutkan hati yang keras. Perasaan akan tenang sehingga bisa beramal dengan tulus.

Imam Ahmad menceritakan sebuah hadits tentang amalan mengusap kepala anak yatim. Hadits ini menyatakan bahwa siapa pun yang mengelus kepala anak yatim hanya karena ketaqwaannya kepada Allah, maka ia akan mendapat kebaikan dari Yang Maha Kuasa disetiap helai rambutnya. 

Anak yatim memang membutuhkan kasih sayang karena sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya lagi. Maka apabila itu dilakukan oleh seseorang dengan ikhlas, maka Allah akan melimpahkan kebaikan kepada dirinya. Keutamaan lain dari mengusap kepala anak yatim juga akan dihadiahi oleh Surga kecuali dirinya pernah berbuat dosa yang sangat besar.

3. Berkata yang Lemah Lembut

Jangan bersikap kasar saat memberikan bantuan kepada anak yatim. Sebaliknya, bersikaplah baik dan penuh kasih sayang. Hal ini juga terkait dengan hari ketika Rasulullah mengunjungi seorang anak kecil di Madinah yang tampak sedih. Meskipun saat itu adalah hari raya Idul Fitri, hari yang membahagiakan bagi semua orang. Anak tersebut pun ditanya apa yang menyebabkannya merasa sedih oleh Rasulullah SAW. Ternyata orang tua anak tersebut telah meninggalkannya. Ibunya telah menikah lagi, ayah tirinya telah mengusirnya dari rumah, dan ayahnya telah meninggal dunia. Selanjutnya Rasulullah SAW menawarkan diri menjadi ayahnya, Aisyah menjadi ibunya, dan Fatimah adiknya.

Cara Nabi berbicara dengan anak kecil itu sangat lembut, penuh kasih sayang hingga bisa mengembalikan senyum anak yatim itu. Rasulullah juga menghadiahkan pakaian yang layak untuknya, sungguh adab Rasulullah pada anak yatim ini sangat mengharukan.

4. Tidak Menghardiknya

Jangan pernah menghardik anak yatim ketika sedang memberikan santunan. Hal ini sudah dijelaskan lebih lanjut dalam Al-Qur’an surat Adh-Dhuha ayat 9 yang bunyinya,

فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha)

Ada sebuah hadis menjelaskan tentang bahwa sebaik-baiknya rumah adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim dan diperlakukan dengan baik. Sebaliknya, seburuk-buruknya rumah adalah rumah yang berisi anak yatim dan diperlakukan buruk.

5. Selalu Memuliakannya

Adab Rasulullah pada anak yatim yang berikutnya adalah selalu memuliakannya. Hal ini dapat menjadi teladan dalam pengajaran yang penuh kasih kepada anak-anak oleh para ayah dimana pun. Misalnya dengan menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anaknya.

Tidak ada salahnya mengasuh dan mendoakan anak yatim untuk membantu membina tali silaturahmi. Pastinya anak yatim tersebut akan merasa puas dan mendapat teman baru. Kesedihannya atas kepergian ayahnya akan berkurang. Rasulullah SAW menambahkan, memuji anak yatim mungkin bisa menjadi obat penyembuh bagi hati seseorang yang kotor.

6. Membawanya ke Keluarganya

Tindakan kasih sayang Nabi SAW yang utama terhadap anak yatim adalah menyatukannya kembali mereka dengan sanak saudaranya. Ada sebuah kisah pada masa Rasulullah SAW dimana istri Ibnu Mas’ud, Zainab, mendatanginya untuk menanyakan tentang rezeki anak yatim yang tinggal di rumahnya. Menurut Rasulullah SAW, Zainab akan mendapat dua pahala, yaitu pahala karena bersedekah dan pahala yang karena menjunjung tinggi tali silaturahmi.

Ketika mengangkat anak yatim, hendaknya kamu memenuhi kebutuhan pokoknya, menanamkan dalam dirinya pendidikan agama, dan mendidiknya sampai dia dewasa. Untuk menjadi penjamin anak yatim, seseorang harus berjanji untuk melindunginya dan memperlakukannya secara setara dengan anak-anak lain dalam hal tempat tinggal, pakaian, dan makanan. Hal ini juga dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW lainnya.

7. Mengurusnya Secara Adil

Orang-orang yang mengasuh anak yatim hendaknya saling memperhatikan anak yatim satu sama lain. Jangan biarkan perlakuan yang tidak adil menimbulkan kecemburuan dalam hati mereka.

Agar umatnya senantiasa beramal shaleh, Rasulullah memberikan teladan kepada mereka dengan menunjukkan cara memperlakukan anak yatim. Tidak boleh menghardik anak yatim karena itu merupakan larangan dari Allah SWT. Setelah itu, jika ingin menyantuni anak yatim, maka bisa  memberikan kepada mereka  apa yang mereka butuhkan.

Bahagiakan Anak Yatim

Sebagaimana Rasulullah sebagai teladan bagi umat muslim senantiasa berbuat baik dan memuliakan anak yatim dengan begitu banyaknya keutamaan hingga menjadi wasilah memasuki Surga Allah.

Amazing Sedekah sebagai Lembaga Filantropi yang bergerak di bidang Sosial kemasyarakatan berkomitmen untuk menjadi kepanjangan tangan bagi masyarakat dalam melakukan kebaikan-kebaikan. mengajak sesama untuk berbagi kebaikan dalam bentuk Wakaf, Infaq dan Shodaqoh. 

 

 

Bagikan artikel ini:

Baca Juga