Infaq Ramadhan – Pernahkah kita ragu atau merasa berat saat hendak bersedekah? Ingin dapat pahala, tapi masih berhitung untung rugi. Ada sebuah tweet X berupa keluhan seperti ini: “Begini nih guys, please spill, gimana caranya ngilangin rasa ragu waktu mau sedekah? Tiap mau ngelakuin tuh suka terlintas, tapi … aku juga butuh uangnya. Sebenernya apa jatuhnya jadi enggak ikhlas, ya? Maaf banget aku juga gak mau kepikiran gini.”
Segala “tapi” saat hendak berinfaq, mungkin pula muncul dari asumsi bahwa bersedekah itu harus besar angkanya agar lebih bermanfaat, sehingga ketika penghasilan pas-pasan, merasa rezeki berkurang jika disedekahkan.
Akibatnya ketika hendak bersedekah, malah galau memikirkan berapa uang yang hilang ketimbang berapa banyak kaum dhuafa yang terbantu dan berapa besarnya pahala yang didapat. Lupa pula bahwa dalam hidup ini uang bukan segala-galanya.
Sejatinya, kita semua tahu bahwa bersedekah itu amalan yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa takut rugi dalam berinfaq lahir dari mindset kapitalis. Mindset tersebut menyebabkan seseorang ingin beribadah, tapi tidak mau rugi.
Sebagai seorang Muslim, kita ingat bahwa sedekah itu keutamaannya sangat besar. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 271 Allah menyatakan bahwa sedekah itu bisa menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahan kita. Dengan merenungi banyaknya kesalahan dan dosa, insya Allah mengurangi pikiran untung rugi dalam berinfaq serta dapat menguatkan dorongan berinfaq.
Sedekah juga mengamankan kehidupan akhirat karena akan mengurangi hisab. Makin banyak harta yang dikeluarkan, makin besar balasan Allah yang akan didapatkan.
Hanya saja, perlu dipahami, nilai ibadah infaq tidak dipengaruhi banyak sedikitnya atau besar kecilnya harta yang dikeluarkan. Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Satu dirham telah mengungguli 100 ribu dirham. Seseorang memiliki dua dirham, lalu ia mengambil salah satunya dan menyedekahkannya. Seseorang yang lain memiliki harta berlimpah, lalu ia mengambil 100 ribu dirham dari kekayaannya itu dan menyedekahkannya.” (HR An-Nasai).
Infaq Ramadhan: besar atau kecil semua bernilai Ibadah
Makna hadis tersebut adalah bahwa satu dirham yang disedekahkan oleh seseorang miskin, jauh lebih besar nilainya daripada 100 dirham yang disedekahkan oleh orang kaya. Satu dirham saat ini kira-kira setara dengan 50 ribu rupiah. Berarti 100 ribu dirham sama dengan 5 miliar rupiah. Dengan demikian, menurut Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, keutamaan sedekah Rp 50 ribu dari orang miskin bisa mengalahkan keutamaan sedekah Rp5 miliar dari orang kaya. (Lihat: Ibn Rajab, Fath al-Bari, I/125).
Berdasarkan hadis di atas, andai si A yang miskin hanya memiliki Rp20 ribu, lalu ia menginfaqkan setengahnya sebesar Rp10 ribu, maka si B yang milyarder pemilik uang Rp100 miliar, harus berinfaq setengahnya pula atau sebesar Rp50 miliar. Itu dilakukan agar nilai pahala sang milyarder bisa menyamai atau bahkan mengalahkan sedekah si A. Sanggupkah?
Kembali ke pembahasan sebelumnya, bahwa infaq adalah salah satu amal shalih dalam Islam. Dalam konteks Ramadhan, infaq rmamadhan menjadi lebih istimewa. Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi).
Dalam ajaran Islam, tidak ada batasan minimal untuk berinfaq. Bahkan, satu butir kurma sekalipun yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi sebab keberkahan besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa sekecil apapun infaq yang kita keluarkan, asalkan tulus karena Allah, akan berlipat ganda manfaatnya.
Kita lihat bagaimana infaqnya Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Beliau adalah teladan terbaik dalam hal berinfaq, terutama di bulan Ramadhan. Beliau digambarkan sebagai orang yang sangat dermawan hingga menginspirasi keluarga, kerabat, dan para sahabatnya untuk tidak pernah ragu mengeluarkan harta di jalan Allah.
Kisah Kedermawanan Nabi dan Sahabat
Satu kisah menarik adalah ketika seorang wanita miskin datang kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dengan membawa dua anaknya yang kelaparan. Rasulullah memberikan apa yang beliau miliki meski saat itu beliau juga dalam keadaan kekurangan.
Ada pula kisah tentang kedermawanan Ali bin Ali Thalib dan Fatimah Az Zahra. Ali merupakan salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. Istrinya, Fatimah Az Zahra adalah putri yang sangat dicintai baginda Rasulullah.
Dalam buku “Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Sahabat Nabi” karya Siti Nurlaela diceritakan bahwa suatu ketika salah seorang anak Ali jatuh sakit. Demi kesembuhan anaknya, ia pun bernazar. Jika anaknya sembuh, ia akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.
Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada anak keduanya kesembuhan, Ali dan Fatimah pun menjalankan puasa nazar. Namun, saat akan berbuka puasa di hari pertama, mereka kedatangan seseorang yang berpakaian lusuh dan kelaparan. Dia pun meminta makanan kepada Ali.
Ali dan Fatimah memberikan rotinya kepada orang itu. Akhirnya, mereka pun hanya berbuka puasa dengan air putih. Pada berpuasa di hari kedua, mereka kembali kedatangan seorang anak yatim yang kelaparan. Ia telah beberapa ditinggal ibunya bekerja, sehingga ia terpaksa meminta makanan kepada Ali karena kelaparan.
Ali sangat sedih mendengar cerita anak yatim tersebut. Tanpa pikir panjang, Ali kembali memberikan rotinya kepada anak yatim tersebut. Apa yang dilakukan Ali lagi-lagi ditiru oleh Fatimah. Ia juga menyerahkan roti bagiannya kepada si anak yatim.
Pada hari berikutnya, kejadian itu masih berulang. Menjelang berbuka puasa, mereka kembali kedatangan seseorang. Orang itu itu adalah seorang tawanan perang. Ia baru saja dibebaskan orang kafir. Tubuhnya lemah karena kelaparan.
Ali dan Fatimah pun saling berpandangan. Sejak mereka berpuasa nazar, tak sebutir kurma atau sepotong roti pun masuk ke dalam perut mereka. Selama tiga hari itu, mereka hanya berbuka puasa dengan air putih.
Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa berinfaq sesedikit apa pun, akan sangat berarti bagi kaum miskin.
Dalil Al Quran dan Hadis mengenai Infaq – Infaq Ramadhan
Berikut adalah beberapa dalil dari Al-Quran dan hadis yang menunjukkan bahwa infaq memiliki nilai ibadah yang tinggi:
Dalil dari Al-Quran, di antaranya adalah:
1. QS. Al-Baqarah: 261
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
2. QS. At-Taubah: 111
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…”
3. QS. Al-Baqarah: 245
“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak…”
4. QS. Saba: 39
“Apa saja harta yang kamu infaqkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.”
Dalil dari Hadis, di antaranya adalah:
1. Hadis Riwayat Bukhari
Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang bersedekah sebesar biji kurma yang berasal dari usaha halal, maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya dan melipatgandakannya hingga sebesar gunung.”
2. Hadis Riwayat Muslim
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah ….”
3. Hadis Riwayat Tirmidzi
“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan.”
4. Hadis Riwayat Ahmad
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berinfaq di jalan-Nya dan membenci orang-orang yang tidak mau berbagi.”
Dalil-dalil tersebut di atas menunjukkan bahwa infaq adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan, terutama di bulan penuh berkah, seperti Ramadhan. Infaq tidak hanya memberi manfaat kepada orang lain, tetapi juga memperkuat taqarrub ilallah yang lahir dari idrak sillah billah. Semoga kita terus termotivasi untuk berinfaq di jalan-Nya.