Pahala Infaq Kepada Anak Yatim

Bagikan artikel ini:

Berdasarkan data Kementrian Sosial, jumlah anak yatim di Indonesia tercatat sekitar 4 juta anak. Akan tetapi, dari jutaan anak yatim itu, hanya ratusan ribu di antara mereka yang mendapatkan bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya. Itu artinya, ada jutaan yatim lainnya yang berjuang hidup tanpa  dukungan dan bantuan dari pihak mana pun.

Siapa Anak Yatim?

Kata yatim berasal dari akar kata ya-ta-ma yang mempunyai persamaan kata al-fard atau al-infirad yang memiliki arti kesendirian. Menurut arti kata, ‎’yatim’ berarti yang perlu dikasihani. Sementara secara syariat, yatim artinya yaitu orang yang ditinggal wafat oleh bapaknya dan belum kondisi baligh. Berdasarkan pengertian ini, maka anak-anak yang ditinggal mati oleh ibunya tidak bisa disebut sebagai anak yatim.

Di Indonesia kita menyebutnya sebagai anak piatu. Dalam istilah arab disebut al-‘aji, yang menurut Ibnu Atsir artinya yaitu anak yang tidak memperoleh asupan ASI (air susu ibu) dari ibunya

Begitu juga dengan anak yang ditinggal oleh ayahnya dalam kondisi sudah baligh, maka ia juga tidak bisa disebut sebagai anak yatim.

Dari Anas ra, menyatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “tidak disebut sebagai anak yatim ketika dia telah bermimpi hingga keluar air mani.” (HR. Abu Hanifah).

Dari Abu Daud dan Ali bin Abi Thalib ra., dia berkata:

“Aku telah menghafal sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “tidak disebut sebagai anak yatim apabila dia telah bermimpi hingga mengeluarkan air mani.”

Anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya sekaligus disebut dengan yatim piatu. Akan tetapi, baik anak yatim, anak piatu atau pun anak yatim piatu, semua status yatim piatunya akan terhenti ketika mereka sudah mencapai fase baligh.

Islam Memuliakan Anak Yatim

Sebelum Islam datang, orang-orang memperlakukan orang lain berdasarkan harta dan kedudukannya. Mereka memuliakan orang-orang kaya di antaranya, dan memandang rendah orang-orang miskin di sekitar mereka. Sampai hari ini pun, banyak di antara kita yang memperlakukan anak yatim dengan tidak layak karena ketiadaan ayah dan sulitnya kondisi ekonomi keluarganya. Kehilangan ayah sebagai pencari nafkah utama, rentan membuat sebuah keluarga mengalami kemerosotan ekonomi bahkan jatuh ke jurang kemiskinan.

Islam mengajarkan bahwa kedudukan manusia sama di hadapan Allah Ta’ala tanpa melihat status dan jabatannya. Sebab yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya di dalam Islam hanyalah tingkat ketakwaannya.  

Anak yatim di dalam Islam diberi kedudukan yang istimewa. Ketiadaan orang tua dan ketiadaan harta tidak membuat mereka dipandang sebelah mata. Di berbagai ayat dan hadits dengan jelas Allah Ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebutkan bahwa siapa saja yang memuliakan anak yatim maka akan mendapatkan kemuliaan juga dari Allah Ta’ala.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengasuh tiga anak yatim, dia bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya dan bagaikan keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad fisabilillah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara sebagaimana kedua jari ini, yaitu telunjuk dan jari tengah.” (HR. Muslim)

Di dalam al-quran, Allah Ta’ala juga mewanti-wanti manusia agar senantiasa berbuat baik kepada anak yatim. Tidak menzalimi mereka atau berlaku sewenang-wenang hanya karena kondisi mereka yang tidak memiliki orang tua dan tidak pula berharta.

“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuhaa:9)

Begitulah ajaran Islam dalam memperlakukan anak yatim. Mereka dipandang sama mulianya dengan manusia lainnya. Bahkan kita diperintahkan untuk menjaga, mengasihi dan memberikan kegembiraan kepada mereka.

Pahala Infaq kepada Anak Yatim

Setiap amal baik pasti akan Allah balas dengan lebih banyak kebaikan. Begitu juga ketika berbuat baik kepada anak yatim, insyaAllah ada segudang pahala menanti. Infaq yang kita berikan, makanan yang disajikan, kasih sayang yang diulurkan kepada para anak yatim, semuanya tidak akan sia-sia. berikut ini beberapa balasan yang dahsyat yang Allah Ta’ala janjikan atas siapa saja yang peduli, mencintai dan memuliakan anak yatim.

1. Pahala dan Surga di Akhirat

Pahala dan surga di akhirat merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai setiap manusia setelah mereka tiada. Karena itu kita senantiasa berikhtiar menabur beragam kebaikan agar Allah mudahkan jalan untuk mendapatkannya. Menyantuni anak yatim, memberi makan dan mengasuh mereka merupakan satu amalan yang berbuah balasan surga.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang mengikut sertakan anak yatim di antara dua orang tua yang muslim dalam makan dan minumnya sehingga mencukupinya, maka ia pasti masuk surga.” (HR. Abu Ya’ladan Thabrani, Sahih At Targhib, Al Albaniy)

2. Mendapatkan Kemuliaan dari Allah Ta’ala dan Rasulullah-Nya

Kemuliaan seseorang tidak terletak pada materi duniawi yang dimilikinya, akan tetapi terletak pada akhlaknya. Menyantuni anak yatim merupakan akhlak terpuji yang akan Allah Ta’ala balas dengan memberi kemuliaan juga kepada kita.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan azab Rabb kami pada suatu hari yang di hari itu orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan pada hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) setara.” (QS. Al-Insaan: 9-12)

3. Menjauhkan dari Dosa Besar dan Siksaan Api Neraka

Hal yang paling ditakutkan manusia setelah mereka tiada adalah kelak akan dilemparkan ke dalam neraka karena dosa-dosa selama di dunia. Salah satu keistimewaan dari menyantuni anak yatim adalah Allah Ta’ala akan menjaga diri kita agar tidak tergelincir ke dalam dosa dan dijauhkan dari siksa neraka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang menanggung makan dan minum (memelihara) anak yatim dari orang Islam, sampai Allah Ta’ala mencukupkan dia, maka Allah mengharuskan ia masuk surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak terampunkan.” (HR. Thirmidzi).

4. Dimuliakan dan Dilapangkan Rezekinya

Ketika hidup terasa sesak karena sempitnya rezeki atau beratnya beban masalah, maka menyantuni anak yatim akan membuka peluang-peluang rezeki dan membuat segala urusan dilapangkan jalannya. Selain itu, berbuat baik dengan cara membelanjakan harta untuk anak yatim juga menjadi salah satu cara agar rezeki kita diberkahi oleh Allah Ta’la.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabi pun bertanya: sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihanilah anak yatim, usaplah mukanya dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.(HR. Thabrani)

Begitulah cara Allah Ta’ala membalas setiap kebaikan yang kita ulurkan dengan cara menyantuni anak yatim. Sesungguhnya setiap infaq yang kita berikan untuk mereka, insyaAllah akan berbuah surga

Bagikan artikel ini:

Baca Juga