Zakat Fitrah: Definisi, Hukum dan Penerima

Bagikan artikel ini:

Tak terasa, Ramadhan terus berjalan dan sebentar lagi berada di penghujungnya. Kaum Muslimin hendaknya bersiap untuk menunaikan zakat fitrah. Yuk kita refresh hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan salah satu kewajiban dalam hukum Islam ini!

Definisi Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu laki-laki maupun perempuan muslim yang berkemampuan sesuai syarat-syarat yang ditetapkan.

Ibnul Atsir berkata, “Zakat fitrah (fithr) adalah untuk menyucikan badan” (An Nihayah 2:307). Sementara Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani mengutip perkataannya Abu Nu’aim, “Disandarkan sedekah kepada fithr (berbuka) disebabkan karena wajibnya untuk berbuka dari bulan Ramadhan.”

Dalam sebuah hadis, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithr (fitrah) satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum kepada budak atau yang merdeka, laki-laki atau perempuan anak kecil atau dewasa dari kaum Muslimin dan beliau menyuruh untuk dibayar sebelum manusia keluar untuk shalat Id” (HR. Bukhari).

Hukum Zakat Fitrah

Pada prinsipnya sebagaimana definisi di atas, setiap Muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi dirinya, keluarganya, dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallaahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia, perkataan keji, dan untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang diterima dan barangsiapa yang mengeluarkannya sesudah shalat Id, maka itu berarti sedekah seperti sedekah biasa (bukan zakat fitrah)” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Daaruquthni).

Berikut adalah syarat yang menyebabkan individu wajib membayar zakat fitrah:

  1. Individu yang mempunyai kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya.

2. Anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir bulan Ramadhan dan hidup selepas terbenam matahari.

3. Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan dan tetap dalam Islamnya.

4. Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan

Takaran Zakat Fitrah

Dikutip dari penjelasan KH. M. Shiddiq Al Jawi (Pakar Fikih Kontemporer), takaran zakat fitrah adalah satu sha’ bahan makanan pokok. Sha’ itu adalah ukuran takaran (al-kail) bukan ukuran berat (al-wazan). Satu sha’ gandum (al-qamhu) beratnya adalah 2176 gram. (Abdul Qadim Zalum, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, hal. 60).

Walaupun takarannya sama (satu sha’) akan tetapi setiap biji-bijian akan mempunyai berat yang berbeda. Satu sha’ gandum beratnya tidak sama dengan satu sha’ beras, tidak sama pula dengan satu sha’ jagung, dan seterusnya.

Menurut Prof. Mahmud Yunus dalam kitabnya Al-Fiqhul Wadhih Juz 2 hal. 10, bahwa 1 sha’ beras itu setara dengan 2187,5 gram beras. Beliau menyatakan, “Muzakki mengeluarkan (zakat fitrah) untuk setiap jiwa sebesar satu sha’ beras, dan kadarnya (beratnya) adalah dua kilogram dan seratus delapan puluh tujuh setengah gram ( 2187,5 gram)” (Mahmud Yunus, Al-Fiqhul Wadhih, Juz 2 hal. 10).

Untuk memudahkan, angka tersebut (2,1875 kilogram) dapat dibulatkan ke atas menjadi 2,2 kilogram. Insya Allah inilah ukuran 1 sha’ beras dalam zakat fitrah. Lalu, bolehkah berzakat fitrah 2,5 kilogram beras? Boleh saja, namun diniatkan untuk zakat fitrah yang wajib adalah 2,2 kilogram. Sedangkan yang 300 gram diniatkan untuk sedekah yang bersifat sunah.

Penerima Zakat Fitrah

Agar membawa manfaat yang diharapkan, donatur perlu memahami siapa saja golongan yang berhak atas zakat fitrah ini. Masyarakat yang berhak menerima zakat fitrah ada delapan golongan berikut:

1. Kaum Fakir (golongan orang yang hampir tidak memiliki apa pun dan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari).

    2. Kedua, kaum miskin (golongan orang yang memiliki sedikit harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari).

    3. Amil (golongan yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat fitrah).

    4. Mualaf (golongan yang baru saja masuk Islam, dan tentunya membutuhkan bantuan dari berbagai macam hal untuk memperkuat keimanan).

    5. Riqab (golongan budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan diri).

    6. Gharimin (golongan yang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan demi mempertahankan izzahnya).

    7. Fisabilillah (golongan yang berjihad di jalan Allah

    8. Ibnu sabil (golongan musafir yang kehabisan biaya di tengah perjalanan dalam memperkuat ketaatan terhadap Allah).

    Hikmah Disyariatkan Zakat Fitrah

    Di antara hikmah disyariatkannya zakat fitrah adalah

    1. Zakat fitrah merupakan zakat diri, di mana Allah ta’ala memberikan umur panjang baginya sehingga ia bertahan dengan nikmat-Nya.

        2. Zakat fitrah juga merupakan bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik kaya maupun miskin sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah ta’ala dan bersuka cita dengan segala anugerah nikmat-Nya.

        3. Hikmah yang paling agung adalah tanda syukur orang yang berpuasa kepada Allah atas nikmat ibadah puasa. (Lihat Al Irsyaad Ila Ma’rifatil Ahkaam, oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hlm. 37.)

        4. Di antara hikmahnya adalah sebagaimana yang terkandung dalam hadis Ibnu Abbas, yaitu zakat fitrah merupakan pembersih bagi yang melakukannya dari kesia-siaan dan perkataan buruk, demikian pula sebagai salah satu sarana pemberian makan kepada fakir miskin.

        Demikianlah definisi zakat fitrah, hukum, takaran, siapa saja golongan orang yang berhak menerimanya, serta hikmah disyariatkannya. Semoga kita mampu menunaikan salah satu rukun Islam ini hingga Allah berkenan membersihkan diri dan harta kita. Aamiin.

        Bagikan artikel ini:

        Baca Juga